<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>AL-QISTY....sang pengembara jiwa.....</title>
	<atom:link href="http://qistoos09.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qistoos09.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Aug 2007 10:22:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='qistoos09.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>AL-QISTY....sang pengembara jiwa.....</title>
		<link>http://qistoos09.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://qistoos09.wordpress.com/osd.xml" title="AL-QISTY....sang pengembara jiwa....." />
	<atom:link rel='hub' href='http://qistoos09.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KEOTENTIKAN AL-QUR&#8217;AN</title>
		<link>http://qistoos09.wordpress.com/2007/07/27/hello-world/</link>
		<comments>http://qistoos09.wordpress.com/2007/07/27/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jul 2007 10:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saviking</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara-Nya) (QS 15:9). Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qistoos09.wordpress.com&amp;blog=1424577&amp;post=1&amp;subd=qistoos09&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai          ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia          merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan          ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna          al-dzikra wa inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang          menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara-Nya)          (QS 15:9).</p>
<p>Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan          yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan          Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan          oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan          jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang          dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda          sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah          saw., dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi          saw.</p>
<p>Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh          bukti-bukti lain? Dan, dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan          manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan          Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di          atas, karena seperti yang ditulis oleh almarhum &#8216;Abdul-Halim          Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar: &#8220;Para orientalis yang dari          saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak          mendapatkan celah untuk meragukan          keotentikannya.&#8221;<a name="r1"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#1"><sup>1</sup></a>          Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang          mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.</p>
<h3><a name="Bukti"></a>Bukti-bukti dari Al-Quran Sendiri</h3>
<p>Sebelum menguraikan bukti-bukti kesejarahan, ada baiknya          saya kutipkan pendapat seorang ulama besar Syi&#8217;ah          kontemporer, Muhammad Husain Al-Thabathaba&#8217;iy, yang          menyatakan bahwa sejarah Al-Quran demikian jelas dan          terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Ia dibaca oleh          kaum Muslim sejak dahulu sampai sekarang, sehingga pada          hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk          membuktikan keotentikannya. Kitab Suci tersebut lanjut          Thabathaba&#8217;iy memperkenalkan dirinya sebagai Firman-firman          Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa          pun untuk menyusun seperti keadaannya. Ini sudah cukup          menjadi bukti, walaupun tanpa bukti-bukti kesejarahan. Salah          satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita          sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi saw. tanpa          pergantian atau perubahan &#8211;tulis Thabathaba&#8217;iy lebih jauh&#8211;          adalah berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang          diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat          ditemui sebagaimana keadaannya          dahulu.<a name="r2"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#2"><sup>2</sup></a></p>
<p>Dr. Mustafa Mahmud, mengutip pendapat Rasyad Khalifah,          juga mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat          bukti-bukti sekaligus jaminan akan          keotentikannya.<a name="r3"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#3"><sup>3</sup></a></p>
<p>Huruf-huruf hija&#8217;iyah yang terdapat pada awal beberapa          surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran          sebagaimana diterima oleh Rasulullah saw. Tidak berlebih dan          atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan          oleh Al-Quran. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan          jumlah huruf-huruf B(i)sm Ali(a)h Al-R(a)hm(a)n Al-R(a)him.          (Huruf a dan i dalam kurung tidak tertulis dalam aksara          bahasa Arab).</p>
<p>Huruf (qaf) yang merupakan awal dari surah ke-50,          ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.</p>
<p>Huruf-huruf kaf, ha&#8217;, ya&#8217;, &#8216;ayn, shad, dalam surah          Maryam, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.</p>
<p>Huruf (nun) yang memulai surah Al-Qalam, ditemukan          sebanyak 133 atau 7 X 19. Kedua, huruf (ya&#8217;) dan (sin) pada          surah Yasin masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X          19. Kedua huruf (tha&#8217;) dan (ha&#8217;) pada surah Thaha          masing-masing berulang sebanyak 342 kali, sama dengan 19 X          18.</p>
<p>Huruf-huruf (ha&#8217;) dan (mim) yang terdapat pada          keseluruhan surah yang dimulai dengan kedua huruf ini, ha&#8217;          mim, kesemuanya merupakan perkalian dari 114 X 19, yakni          masing-masing berjumlah 2.166.</p>
<p>Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari          celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai          bukti keotentikan Al-Quran. Karena, seandainya ada ayat yang          berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya          dengan kata atau kalimat yang lain, maka tentu          perkalian-perkalian tersebut akan menjadi kacau.</p>
<p>Angka 19 di atas, yang merupakan perkalian dari          jumlah-jumlah yang disebut itu, diambil dari pernyataan          Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah          Al-Muddatstsir ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman          terhadap seorang yang meragukan kebenaran Al-Quran.</p>
<p>Demikianlah sebagian bukti keotentikan yang terdapat di          celah-celah Kitab Suci tersebut.</p>
<h3><a name="Sejarah"></a>Bukti-bukti Kesejarahan</h3>
<p>Al-Quran Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau          tepatnya, menurut sementara ulama, dua puluh dua tahun, dua          bulan dan dua puluh dua hari.</p>
<p>Ada beberapa faktor yang terlebih dahulu harus          dikemukakan dalam rangka pembicaraan kita ini, yang          merupakan faktor-faktor pendukung bagi pembuktian          otentisitas Al-Quran.</p>
<blockquote><p>(1) Masyarakat Arab, yang hidup pada masa             turunnya Al-Quran, adalah masyarakat yang tidak mengenal             baca tulis. Karena itu, satu-satunya andalan mereka             adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab &#8211;bahkan             sampai kini&#8211; dikenal sangat kuat.(2) Masyarakat Arab &#8211;khususnya pada masa turunnya             Al-Quran&#8211; dikenal sebagai masyarakat sederhana dan             bersahaja: Kesederhanaan ini, menjadikan mereka memiliki             waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman             pikiran dan hafalan.</p>
<p>(3) Masyarakat Arab sangat gandrung lagi membanggakan             kesusastraan; mereka bahkan melakukan             perlombaan-perlombaan dalam bidang ini pada waktu-waktu             tertentu.</p>
<p>(4) Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi             keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan bukan saja             bagi orang-orang mukmin, tetapi juga orang kafir.             Berbagai riwayat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum             musyrik seringkali secara sembunyi-sembunyi berupaya             mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibaca oleh kaum             Muslim. Kaum Muslim, disamping mengagumi keindahan bahasa             Al-Quran, juga mengagumi kandungannya, serta meyakini             bahwa ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan             dunia dan akhirat.</p>
<p>(5) Al-Quran, demikian pula Rasul saw., menganjurkan             kepada kaum Muslim untuk memperbanyak membaca dan             mempelajari Al-Quran dan anjuran tersebut mendapat             sambutan yang hangat.</p>
<p>(6) Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka,             mengomentari keadaan dan peristiwa-peristiwa yang mereka             alami, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.             Disamping itu, ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi             sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan maknanya             dan proses penghafalannya.</p>
<p>(7) Dalam Al-Quran, demikian pula hadis-hadis Nabi,             ditemukan petunjuk-petunjuk yang mendorong para             sahabatnya untuk selalu bersikap teliti dan hati-hati             dalam menyampaikan berita &#8211;lebih-lebih kalau berita             tersebut merupakan Firman-firman Allah atau sabda             Rasul-Nya.</p></blockquote>
<p>Faktor-faktor di atas menjadi penunjang terpelihara dan          dihafalkannya ayat-ayat Al-Quran. Itulah sebabnya, banyak          riwayat sejarah yang menginformasikan bahwa terdapat ratusan          sahabat Nabi saw. yang menghafalkan Al-Quran. Bahkan dalam          peperangan Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah          wafatnya Rasul saw., telah gugur tidak kurang dari tujuh          puluh orang penghafal Al-Quran.<a name="r4"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#4"><sup>4</sup></a></p>
<p>Walaupun Nabi saw. dan para sahabat menghafal ayat-ayat          Al-Quran, namun guna menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu          Ilahi itu, beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi          juga tulisan. Sejarah menginformasikan bahwa setiap ada ayat          yang turun, Nabi saw. lalu memanggil sahabat-sahabat yang          dikenal pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru          saja diterimanya, sambil menyampaikan tempat dan urutan          setiap ayat dalam surahnya. Ayat-ayat tersebut mereka tulis          dalam pelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulang-tulang          binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan          ayat-ayat tersebut secara pribadi, namun karena keterbatasan          alat tulis dan kemampuan maka tidak banyak yang melakukannya          disamping kemungkinan besar tidak mencakup seluruh ayat          Al-Quran. Kepingan naskah tulisan yang diperintahkan oleh          Rasul itu, baru dihimpun dalam bentuk &#8220;kitab&#8221; pada masa          pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a.<a name="r5"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#5"><sup>5</sup></a></p>
<h3><a name="Mushhaf"></a>Penulisan Mushhaf</h3>
<p>Dalam uraian sebelumnya dikemukakan bahwa ketika terjadi          peperangan Yamamah, terdapat puluhan penghafal Al-Quran yang          gugur. Hal ini menjadikan &#8216;Umar ibn Al-Khaththab menjadi          risau tentang &#8220;masa depan Al-Quran&#8221;. Karena itu, beliau          mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar mengumpulkan          tulisan-tulisan yang pernah ditulis pada masa Rasul.          Walaupun pada mulanya Abu Bakar ragu menerima usul tersebut          &#8211;dengan alasan bahwa pengumpulan semacam itu tidak          dilakukan oleh Rasul saw.&#8211; namun pada akhirnya &#8216;Umar r.a.          dapat meyakinkannya. Dan keduanya sepakat membentuk suatu          tim yang diketuai oleh Zaid ibn Tsabit dalam rangka          melaksanakan tugas suci dan besar itu.</p>
<p>Zaid pun pada mulanya merasa sangat berat untuk menerima          tugas tersebut, tetapi akhirnya ia dapat diyakinkan          &#8211;apalagi beliau termasuk salah seorang yang ditugaskan oleh          Rasul pada masa hidup beliau untuk menuliskan wahyu          Al-Quran. Dengan dibantu oleh beberapa orang sahabat Nabi,          Zaid pun memulai tugasnya. Abu Bakar r.a. memerintahkan          kepada seluruh kaum Muslim untuk membawa naskah tulisan ayat          Al-Quran yang mereka miliki ke Masjid Nabawi untuk kemudian          diteliti oleh Zaid dan timnya. Dalam hal ini, Abu Bakar r.a.          memberi petunjuk agar tim tersebut tidak menerima satu          naskah kecuali yang memenuhi dua syarat:</p>
<p>Pertama, harus sesuai dengan hafalan para sahabat          lain.</p>
<p>Kedua, tulisan tersebut benar-benar adalah yang ditulis          atas perintah dan di hadapan Nabi saw. Karena, seperti yang          dikemukakan di atas, sebagian sahabat ada yang menulis atas          inisiatif sendiri.</p>
<p>Untuk membuktikan syarat kedua tersebut, diharuskan          adanya dua orang saksi mata.</p>
<p>Sejarah mencatat bahwa Zaid ketika itu menemukan          kesulitan karena beliau dan sekian banyak sahabat menghafal          ayat Laqad ja&#8217;akum Rasul min anfusikum &#8216;aziz &#8216;alayh ma          &#8216;anittun harish &#8216;alaykum bi almu&#8217;minina Ra&#8217;uf al-rahim (QS          9:128). Tetapi, naskah yang ditulis di hadapan Nabi saw.          tidak ditemukan. Syukurlah pada akhirnya naskah tersebut          ditemukan juga di tangan seorang sahabat yang bernama Abi          Khuzaimah Al-Anshari. Demikianlah, terlihat betapa Zaid          menggabungkan antara hafalan sekian banyak sahabat dan          naskah yang ditulis di hadapan Nabi saw., dalam rangka          memelihara keotentikan Al-Quran. Dengan demikian, dapat          dibuktikan dari tata kerja dan data-data sejarah bahwa          Al-Quran yang kita baca sekarang ini adalah otentik dan          tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang diterima dan          dibaca oleh Rasulullah saw., lima belas abad yang lalu.</p>
<p>Sebelum mengakhiri tulisan ini, perlu dikemukakan bahwa          Rasyad Khalifah, yang menemukan rahasia angka 19 yang          dikemukakan di atas, mendapat kesulitan ketika menemukan          bahwa masing-masing kata yang menghimpun          Bismillahirrahmanirrahim, kesemuanya habis terbagi 19,          kecuali Al-Rahim. Kata Ism terulang sebanyak 19 kali, Allah          sebanyak 2.698 kali, sama dengan 142 X 19, sedangkan kata          Al-Rahman sebanyak 57 kali atau sama dengan 3 X 19, dan          Al-Rahim sebanyak 115 kali. Di sini, ia menemukan          kejanggalan, yang konon mengantarnya mencurigai adanya satu          ayat yang menggunakan kata rahim, yang pada hakikatnya bukan          ayat Al-Quran. Ketika itu, pandangannya tertuju kepada surah          Al-Tawbah ayat 128, yang pada mulanya tidak ditemukan oleh          Zaid. Karena, sebagaimana terbaca di atas, ayat tersebut          diakhiri dengan kata rahim.</p>
<p>Sebenarnya, kejanggalan yang ditemukannya akan sirna,          seandainya ia menyadari bahwa kata rahim pada ayat Al-Tawbah          di atas, bukannya menunjuk kepada sifat Tuhan, tetapi sifat          Nabi Muhammad saw. Sehingga ide yang ditemukannya dapat saja          benar tanpa meragukan satu ayat dalam Al-Quran, bila          dinyatakan bahwa kata rahim dalam Al-Quran yang menunjuk          sifat Allah jumlahnya 114 dan merupakan perkalian dari 6 X          19.</p>
<h3><a name="Penutup"></a>Penutup</h3>
<p>Demikianlah sekelumit pembicaraan dan bukti-bukti yang          dikemukakan para ulama dan pakar, menyangkut keotentikan          ayat-ayat Al-Quran. Terlihat bagaimana Allah menjamin          terpeliharanya Kitab Suci ini, antara lain berkat upaya kaum          beriman.</p>
<h3>Catatan kaki</h3>
<p><a name="1"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#r1">1</a> &#8216;Abdul Halim Mahmud,          Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kitab Al-Lubnaniy,          Beirut, t.t., h. 50.</p>
<p><a name="2"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#r2">2</a> Muhammad Husain          Al-Thabathabaly, Al-Qur&#8217;an fi Al-Islam, Markaz I&#8217;lam          Al-Dzikra Al-Khamisah li Intizhar Al-Tsawrah Al-Islamiyah,          Teheran, h. 175.</p>
<p><a name="3"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#r3">3</a> Mustafa Mahmud, Min          Asrar Al-Qur&#8217;an, Dar Al-Ma&#8217;arif, Mesir, 1981, h. 64-65.</p>
<p><a name="4"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#r4">4</a> &#8216;Abdul Azhim          Al-Zarqaniy, Manahil Al-&#8217;Irfan i &#8216;Ulum Al-Qur&#8217;an,          Al-Halabiy, Kairo, 1980, jilid 1, h. 250.</p>
<p><a name="5"></a><a href="http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Otentik.html#r5">5</a> Ibid., h. 252.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qistoos09.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qistoos09.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qistoos09.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qistoos09.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qistoos09.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qistoos09.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qistoos09.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qistoos09.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qistoos09.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qistoos09.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qistoos09.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qistoos09.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qistoos09.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qistoos09.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qistoos09.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qistoos09.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qistoos09.wordpress.com&amp;blog=1424577&amp;post=1&amp;subd=qistoos09&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qistoos09.wordpress.com/2007/07/27/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/510cf45296f18453138441715647de12?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">saviking</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
